Selasa, 19 Oktober 2010

Racun Mematikan di Balik Kepraktisan Asbes

Di balik fungsi asbes yang murah dan praktis, terdapat risiko penyakit berbahaya. Penyakit ini akan menyerang dalam jangka waktu lama, ketika akumulasi asbes dalam tubuh telah menjadi racun. Penggunaan asbes untuk atap rumah masih saja dilakukan oleh masyarakat.

Ketika melihat sebuah kota dari atas, akan terlihat jelas betapa asbes masih saja dipakai sebagian masyarakat sebagai bahan penutup atap.

Asbes biasanya dipakai oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Langkah ini merupakan upaya menghemat biaya karena asbes lebih murah ketimbang genteng.

Asbes juga memiliki keunggulan, lebih ringan dan bisa dipakai untuk atap dengan tingkat kemiringan rendah. Namun, di balik kelebihannya, asbes berbahaya bagi kesehatan manusia.

Sejak lama telah diketahui bahwa asbes dapat menyebabkan beberapa penyakit. Setidaknya ada tiga penyakit yang disebabkan oleh debu asbes.

Pertama, mesothelioma, yaitu kanker ganas yang menyerang selubung paru-paru, selubung perut, atau selubung jantung. Kedua, kanker paru-paru. Ketiga, penyakit asbestosis. Ketiga penyakit ini sering kali fatal dan berujung kematian.

Peringatan akan bahaya asbes belakangan ini diangkat lagi oleh Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Setiawan Wangsa Atmaja. Ia mengingatkan akan bahaya asbes pada 10 hingga 20 tahun mendatang, ketika akumulasi bahan ini pada tubuh berubah menjadi toksit atau racun.

Pada acara berjudul “Diseminasi Pengelolaan Limbah Asbestos”, ia memaparkan, mengacu pada pengalaman penggunaan asbes di negara maju di Eropa dan Jepang, ditemukan fakta bahwa sejumlah masyarakat di sana mengalami gangguan penyakit akibat asbes.

Proses terjadinya penyakit, menurut Juli Soemirat, pengajar pada Teknik Lingkungan Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, ketika masuk ke paru-paru, partikel asbestos akan melekat atau menusuk sel paru-paru karena tubuh tidak dapat mengeluarkan dan menghancurkan patikel ini.

Akumulasi partikel setelah sekian tahun dapat mengakibatkan sel paru-paru mati sehingga mengganggu kerja paru-paru.

Di negara maju seperti Prancis, Jepang, dan Australia, asbes telah dinyatakan sebagai bahan terlarang untuk digunakan, baik untuk atap, kanvas rem, eternit, maupun peranti tahan api lainnya.

“Namun di Indonesia, asbes masih banyak dipakai dan diperdagangkan,” katanya. Mudah Terhirup Benny Syah, staf pengajar Teknik Lingkungan Fakultas Teknik, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, menjelaskan asbes merupakan mineral yang berbentuk serat-serat yang mudah terpisah.

Ukuran sebuah serat asbes sangat kecil dan halus sehingga mudah beterbangan di udara. “Apabila terhirup, asbes akan segera masuk ke rongga pernapasan, kemudian menimbulkan berbagai kerusakan organ tubuh,” katanya.

Pelepasan serat ini terjadi ketika terjadi perpindahan suhu dari panas ke dingin atau sebaliknya, dingin ke panas.

Kondisi ini akan berdampak lebih parah pada penggunaan asbes sebagai atap yang tidak diberi plafon pada dasarnya. Pecahan serat asbes akan dengan mudah terhirup dalam jumlah banyak lantaran tidak ada penghalang.

Beny mengatakan perpaduan asbes dan kain perca yang banyak digunakan di Indonesia semakin memudahkan pelepasan unsur asbes.

Akibatnya, jika terkena panas, debu asbes lebih mudah terhirup manusia di sekitarnya. Produk asbes yang ada sekarang ini mengandung 94 persen bahan kritatil (Chrysotile) atau hidroksida magnesium silikat dengan senyawa campuran berupa Mg6(OH)6(Si4O11)H2O.

Bahan ini diperoleh dengan menambang. Dari segi sifatnya bagi tubuh, bahan ini bersifat karsinogenik atau merupakan pemicu kanker. Kanker dari bahan ini akan menyerang rongga paru-paru, dada, dan perut.

Pada kasus di Jepang, paparan terhadap partikel asbes yang berlangsung lama telah menimbulkan kematian. Pada 1995, sebanyak 500 orang meninggal dunia, dan pada 2003 kasusnya meningkat menjadi 878.

Berdasarkan penyelidikan, pengguna asbes umumnya akan mengalami penyakit yang disebabkan oleh kontaminasi asbes.

Asbes yang memiliki sifat tahan panas dan tahan asam sering dipakai untuk atap dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya. Di Jepang, penggunaan asbes sudah dilarang sejak 2005.

Jepang kemudian gencar melakukan penelitian untuk mengganti bahan material berbahan asbes. Benny mengatakan mengacu pada pengalaman negara-negara Eropa dan Jepang, proses keracunan asbes tidak langsung terjadi.

Proses ini memakan waktu beberapa tahun, menunggu terjadinya akumulasi kristatil, yakni bahan semacam debu vulkanik pasir kuarsa yang kecil dan tidak terlihat.

Lebih Berbahaya Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Irving Selikoff dari Texas, AS, terkait bahaya asbes pada paru-paru menghasilkan fakta bahwa asbes lebih berbahaya daripada rokok.

Pasalnya, dari penelitiannya, ia menemukan 869 penderita asbestosis, kanker paru-paru, usus, dan kanker perut, 300 orang di antaranya mengaku pernah bekerja di pabrik asbes.

Sementara itu, Cleopas Martin Rumende dari Subbagian Pulmonologi Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan berdasarkan pengalamannya, jumlah pasien dengan gangguan paruparu masih minim atau dapat dikatakan tidak ada gejala penyakit yang disebabkan oleh penggunaan atap asbes.

“Masih jarang ditemukan,” katanya. Martin menuturkan untuk mengetahui seberapa jauh asbes membahayakan kesehatan masyarakat, perlu dilakukan penelitian lebih intens.

Namun, lanjutnya, risiko terkena penyakit akan lebih mudah bagi mereka yang bekerja di pabrik asbes. Sedangkan bagi masyarakat pengguna asbes, kasusnya masih jarang ditemukan.

Langkah yang paling mudah untuk menghindarkan para pekerja dari bahaya penyakit akibat asbes, menurut Martin, adalah dengan menjauhi bahan ini.

“Setidaknya menghindar dari paparan debu asbes,” ujarnya. Pasalnya, mereka yang terkena penyakit paru-paru biasanya memiliki riwayat genetik.

Riwayat genetik asma dari keluarga penderita asma atau alergi biasanya akan menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit paru-paru. “Mereka yang memiliki faktor risiko lebih besar sebaiknya menghidari dari paparan partikel asbes,” pungkasnya.

1 komentar:

Tommy mengatakan...

Menjual defoamer anti busa untuk industri asbes,kertasb, makanan dll untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi saya di email tommy.transcal@gmail.com
WA:081310849918
Terima kasih